Bi Ristha :
Mang Nata kenapa kita itu tidak bisa kaya seperti orang lain ?Mang Nata :
Memang siapa orang lain yang kaya itu ?
Bi Ristha :
Ya banyak lah mang nata, ada yang jutaan, ada yang milyaran !
Mang Nata :
Boleh saja kita melihat orang lain kaya seperti itu dan punya harapan ingin seperti orang kaya tersebut sebagai motivasi bekerja lebih maksimal lagi. Tetapi kakayaan yang sebenarnya adalah mereka yang merasa cukup dan dicukupkan.
Bi Ristha :
Merasa cukup dan dicukupkan bagaimana mang nata, menerima apa adanya gitu ?, berarti menyerah dong mang nata ?.
Mang Nata :
Orang kaya itu harus merasa cukup untuk kebutuhan seperlunya, kemudian kelebihan hartanya itu harus mampu mengayakan orang lain. Setiap kelebihan hartanya itu harus disiasati bisa menciptakan lapangan pekerjaan, menghidupkan sedekah sosial. Sehingga bukan hanya kaya harta duniawi tetapi kaya semangat, kaya sosial, kaya sedakah. Karena pada intinya harta itu baik dikurangkan atau di lebihkan sama-sama bisa bernilai ujian.
Bi Ristha :
Bernilai ujian bagaimana mang nata ?.
Mang Nata :
Karena dalam dua keadaan itu memiliki nilai bisa tercipta kebaikan dan kemuliaan atau bahkan keadaan sebaliknya kerugian kezaliman. Ketika dikurangkan harta, ia tetap bersyukur dan tetap semangat pantang menyerah dalam berdaya upaya. Begitu juga dalam kelebihan harta tidak terjebak dalam kehidupan berpoya-poya tetapi maksimal dalam amal kebaikan sedekah, menciptakan lapangan pekerjaan untuk manfaat secara menyeluruh.
Bi Ristha :
Jadi bagaimana atuh mang nata sebaiknya yang harus kita lakukan.
Mang Nata :
Setiap orang itu sudah kaya dengan sendirinya, bagi mereka yang bisa mengenal potensi dirinya. Kekayaan apa yang bisa diciptakan. Apakah kaya dalam kesabaran, kaya dalam memaafkan, kaya dalam kasih sayang, kaya dalam pikiran, sikap, mental dan masih banyak lagi bibi.
(Cerita Mang Nata untuk Indonesia)

No comments:
Post a Comment