Thursday, October 17, 2019
SEBUAH PESAN DARI BUNGA YANG INDAH
Anah :
Abah kenapa bunga itu indah ?
Abah nata :
Karena indra pandangan dan hati kita menikmatinya sebagai keindahan.
Anah :
Menikmatinya bagaimana abah ?
Abah nata :
Bunga yang indah itu diciptakan oleh Sang Maha Indah.
Anah :
Tapi abah, bukankah manusia itu lebih indah dari bunga ?
Abah nata :
Benar anah, dalam keindahan bunga itu yang seolah-olah ingin mereka katakan. Bahwa mereka bunga itu sangat bangga kepada manusia yang memiliki potensi bisa sama-sama menciptakan keindahan.
Anah :
Kalau begitu menurut abah bunga itu bisa bicara ?
Abah nata :
He he he iyah anah, keindahan mereka adalah seperti bicara menyampaikan pesan untuk manusia.
Anah :
Apa abah pesan keindahan bunga untuk manusia itu ?
Abah nata :
Hai kalian manusia, kamu itu sangat indah atau memiliki kesempatan untuk sangat indah mengalahkan aku bunga. Kebaikan, perdamaian, kemuliaan dan keridhoan dari Sang Maha Pencipta, adalah keindahan yang aku kagumi dari kalian.
(cerita abah nata 218)
Friday, October 11, 2019
Thursday, October 10, 2019
MENGHABISKAN JATAH KEBENCIAN
Abah nata :
Setiap kebaikan kasih sayang bisa jadi bermula dari kemampuan meghabiskan jatah keburukan dalam kebencian.
Anah lajnah :
Abah, bukankah keburukan atau kebencian itu sudah ada dalam diri setiap manusia.
Abah nata :
Benar anah, makanya abah bilang setiap kebaikan kasih sayang itu bermula dari kemampuan menhgabiskan jatah keburukan dalam kebecian.
Anah lajnah :
Sebenarnya menghabiskan, merubah atau karena mendapat hidayah dari Allah Ta'ala ?
Abah nata :
Bagi yang belum bisa habis, berarti ia harus segera menghabiskannya. Jika ia sudah bisa merubah kebencian manjadi semangat kebaikan, itu lebih baik. Dan yang paling baik karena berkat hidayah dari Allah Ta'ala.
Anah lajnah :
Apa cirinya dari ketiga keadaan tersebut abah ?
Abah nata :
Yang belum habis jatah keburukan dalam kebenciannya, ia tetap dalam kedaan itu. Bagi ia yang sudah bisa berubah kebecian menjadi kasih sayang, cirinya sudah terlihat upayanya walau pun kadang masih gagal. Ciri dari kebaikan kasih sayang berkat hidayah dari Allah Ta'ala, ia benar-benar menjalankannya secara sempurna.
Anah lajnah :
Jadi sebaiknya bagaimana abah, apakah kita meminta hidayah kepada Allah Ta'ala, untuk menciptakan kebaikan kasih sayang itu ?
Abah nata :
Sangat tepat anah, karena jika kebaikan kasih sayang itu bermula dari hidayah Allah Ta'ala, maka kenikmatan akan luar biasa. Tetapi jika kesempatan yang kita miliki adalah berjuang dan berdaya upaya agar dalam diri kita tercipta kasih sayang itu. Maka bisa jadi kenikmatan yang kita raih adalah nilai-nilai perjuangan anah.
Anah lajnah :
Jadi harus yang mana abah yang anah pilih ?
Abah nata :
Kenali saja dulu oleh anah, apakah rasa benci itu masih banyak, apakah rasa benci itu sudah mulai dilatih untuk dirubah menjadi semangat kebaikan. Atau rasa benci itu sudah benar-benar tidak ada.
Anah lajnah :
Iya abah siap 86
(cerita abah nata 217)
Klik juga di kompasiana.com/abukalfa1913
CERITA FIKSI MENURUT ABAH NATA
Anah lajnah :
Abah sebenarnya boleh gak kita itu mengarang tulisan fiksi ?
Abah nata :
Kalau menurut abah mah boleh anah. Karena abah menulis cerita fiksi abah nata sudah 214 judul.
Anah lajnah :
Tapi itu artinya ada kebohongan dong abah, nama abah nata itu kan tidak ada, nama anah lajnah juga tidak ada berarti bohong dong abah ?
Abah nata :
Iya benar anah, cerita abah nata adalah cerita karangan yang bisa jadi bukan sebenarnya.
Anah lajnah :
Terus bagaimana dong abah ?
Abah nata :
Begini anah seperti contoh sederhana saja, kita tidak akan mempermasalahkan cerita anak-anak si kancil misalnya. Yang diceritakan bisa berbicara dengan binatang yang lainnya. Itu semua kan kebohongan. Kenapa kita bisa terima, karena kita sangat faham benar bahwa bukan masalah kebohongan si kancil yang berbicara. Tetapi kita bisa mengambil hikmah pesan apa yang ada dalam cerita itu. Jadi para orang tua itu sudah naik level dalam pemahaman sastra bahasanya. Bahwa cerita si kancil bisa bicara adalah masuk dalam katagori perumpamaan.
Anah lajnah :
Jadi kalau perumpamaan itu bukan kebohongan ya abah ?
Abah nata :
Yaaa tergantung pemahaman sastra bahasanya sampai dimana.
Anah lajnah :
Contohnya seperti apa abah ?
Abah nata :
Ada perumpamaan kata-kata pemuda itu diumpamakan sebagai burung. Manusia peripurna itu diumpamakan Matahari. Kesebelasan PSSI itu diumpamakan pasukan garuda. Persib bandung diumpamakan maung bandung.
Anah lajnah :
Iya abah...!
Abah nata :
Kalau anah mau lebih detil lagi sesuatu yang kita tidak lihat dan kita tidak dengar langsung dengan mata kepala sendiri, bisa jadi adalah bukan yang sebenarnya terjadi. Seperti kejadian yang puluhan atau ratusan tahun yang lalu, kan kita tidak tahu yang sebenarnya.Hanya mendengar cerita dari orang lain, bisa jadi ditambah atau dikurangi.
Anah lajnah :
Iya abah
Abah nata :
Begitu juga dengan kejadian yang akan datang berupa ide, gagasan dan cita-cita, semua itu kan bisa disebut cerita yang belum terjadi, tetapi tidak bisa disebut sebagai kebohongan. Karena hubungannya dengan cerita fiksi itu merupakan kemampuan berimajinasi gagasan atau ide untuk memperkaya sastra bahasa. Yang di dalamnya tersirat ada pesan yang ingin disampaikan, seperti cerita si kancil misalnya.
Anah lajnah :
Jadi cerita abah nata itu sebuah perumpamaan, begitu ya abah ?
Abah nata :
Yaaa mudah-mudahan para pembaca yang budiman bisa memahaminya seperti itu anah.
(cerita mang nata 215)
MENGAPA KEMAMPUAN SETIAP ORANG BERBEDA
Anah lajnah :
Iyah abah kenapa setiap orang itu memiliki kemapuan yang berbeda ?
Abah nata :
Agar kita bisa belajar berkembang dalam segala hal yang baik, kedewasaan dan kebijaksanaan.
Anah lajnah :
Belum faham abah !
Abah nata :
Jika semua orang memiliki kemampuan yang sama. Pasti hanya ada satu jenis keahlian di dunia ini anah.
Anah lajnah :
Tapi abah bukankah kita itu harus meniru orang lain yang berhasil. Artinya menjadi sama dengan orang yang kita tiru dong ?
Abah nata :
Sampai kapan pun kita tidak akan bisa sama seratus persen dengan orang yang kita tiru. Karena Tuhan sudah menjadikan kita berbeda dengan orang lain itu. Agar ada hikmah berinteraksi saling membutuhkan. Dan dari setiap kita ada kesempatan memunculkan kebaikan atau keunggulan dari perbedaan tersebut.
Anah lajnah :
Terus bagaimana baiknya untuk belajar atau menyikapi hal seperti ini abah ?
Abah nata :
Yang harus kita sikapi adalah belajar tiada henti mengenali potensi diri sendiri. Sehingga akan ada upaya meningkatkan kemampuan kesempatan menuju yang terbaik.
Anah lajnah :
Iyah abah !
Abah nata :
Setiap kita harus jadi diri sendiri, menggali dan melatih setiap potensi diri sambil beradaptasi dengan lingkungan kita berada. Jika ada orang lain atau beberapa orang yang unggul dalam satu bidang keahlian. Maka tirulah semangat mereka itu dengan menyesuaikan potensi apa yang kita miliki.
Anah lajnah :
Jadi dari perbedaan kemampuan itu, sebagai hikmahnya agar setiap kita bisa istimewa dalam kebaikan, dalam kedewasaan kebijaksanaan, begitu abah ?
Aban nata :
Sering abah sampaikan anah, jadilah diri sendiri. Artinya tidak harus sama dengan orang lain, kerena Tuhan sudah menjadikan kita berbeda dengan orang lain. Tugas kita adalah dengan segala keadaan yang kita miliki mampu berkarya dalam kebaikan, kedewasaan dan kebijaksanaan. Sebagai hasil akhirnya jadilah diri sendiri yang berusaha meraih keridhoan Allah Ta'ala.
(cerita Mang nata 216)
Subscribe to:
Posts (Atom)