Thursday, October 10, 2019
CERITA FIKSI MENURUT ABAH NATA
Anah lajnah :
Abah sebenarnya boleh gak kita itu mengarang tulisan fiksi ?
Abah nata :
Kalau menurut abah mah boleh anah. Karena abah menulis cerita fiksi abah nata sudah 214 judul.
Anah lajnah :
Tapi itu artinya ada kebohongan dong abah, nama abah nata itu kan tidak ada, nama anah lajnah juga tidak ada berarti bohong dong abah ?
Abah nata :
Iya benar anah, cerita abah nata adalah cerita karangan yang bisa jadi bukan sebenarnya.
Anah lajnah :
Terus bagaimana dong abah ?
Abah nata :
Begini anah seperti contoh sederhana saja, kita tidak akan mempermasalahkan cerita anak-anak si kancil misalnya. Yang diceritakan bisa berbicara dengan binatang yang lainnya. Itu semua kan kebohongan. Kenapa kita bisa terima, karena kita sangat faham benar bahwa bukan masalah kebohongan si kancil yang berbicara. Tetapi kita bisa mengambil hikmah pesan apa yang ada dalam cerita itu. Jadi para orang tua itu sudah naik level dalam pemahaman sastra bahasanya. Bahwa cerita si kancil bisa bicara adalah masuk dalam katagori perumpamaan.
Anah lajnah :
Jadi kalau perumpamaan itu bukan kebohongan ya abah ?
Abah nata :
Yaaa tergantung pemahaman sastra bahasanya sampai dimana.
Anah lajnah :
Contohnya seperti apa abah ?
Abah nata :
Ada perumpamaan kata-kata pemuda itu diumpamakan sebagai burung. Manusia peripurna itu diumpamakan Matahari. Kesebelasan PSSI itu diumpamakan pasukan garuda. Persib bandung diumpamakan maung bandung.
Anah lajnah :
Iya abah...!
Abah nata :
Kalau anah mau lebih detil lagi sesuatu yang kita tidak lihat dan kita tidak dengar langsung dengan mata kepala sendiri, bisa jadi adalah bukan yang sebenarnya terjadi. Seperti kejadian yang puluhan atau ratusan tahun yang lalu, kan kita tidak tahu yang sebenarnya.Hanya mendengar cerita dari orang lain, bisa jadi ditambah atau dikurangi.
Anah lajnah :
Iya abah
Abah nata :
Begitu juga dengan kejadian yang akan datang berupa ide, gagasan dan cita-cita, semua itu kan bisa disebut cerita yang belum terjadi, tetapi tidak bisa disebut sebagai kebohongan. Karena hubungannya dengan cerita fiksi itu merupakan kemampuan berimajinasi gagasan atau ide untuk memperkaya sastra bahasa. Yang di dalamnya tersirat ada pesan yang ingin disampaikan, seperti cerita si kancil misalnya.
Anah lajnah :
Jadi cerita abah nata itu sebuah perumpamaan, begitu ya abah ?
Abah nata :
Yaaa mudah-mudahan para pembaca yang budiman bisa memahaminya seperti itu anah.
(cerita mang nata 215)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment